Untukmu, sahabatku..
Ketika aku membuka mata dan
melihat keluar jendela, dia sedang bersiap untuk pergi kesekolah dengan ransel
cokelat kesayangannya. Dia sangat rajin dan tepat waktu, sedangkan aku? Masih
bermalas-malasan di-pulau-kapuk-ku. Mama selalu mengomel setiap pagi, karena
aku! Katanya, tidak pantas anak perempuan bangun siang. Selain itu, aku akan
terburu-buru pergi kesekolah hingga ada hal-hal yang aku lupakan. Tetapi, aku
tetap begitu. Aku tidak mendengarkan pesan mamaku, aku terus mengulanginya,
apalagi pada hari libur.
Aku dan dia selalu bermain
bersama dan mengerjakan tugas bersama. Selain rumah kita berdekatan, kitapun
satu sekolah. Aku sangat senang mempunyai sahabat seperti dia, meskipun
perbedaan kita sangat dominan. Mulai dari perbedaan gender, hobi, cita-cita,
dan masih banyak lagi. Mamaku selalu membandingkanku dengan dia, terkadang aku
merasa kesal, tetapi ketika aku ingat bahwa dia adalah sahabatku dan sepertinya
aku sangat pantas dibandingkan dengan dia, kekesalanku pun lenyap.
Kadang aku bertanya kepadanya,
bagaimana cara untuk menjadi seperti dia karena lama-kelamaan aku merasa bosan
diomeli oleh mamaku terus. Dan dia hanya menjawab “semua itu berawal dari diri
sendiri dan semua itu harus didasari dengan niat baik” kata-kata yang sangat
sederhana namun sangat bermakna.
Aku selalu mencobanya, tetapi
tetap saja. Aku tidak berubah, aku tetap menjadi aku yang biasanya. Aku sangat
ingin berubah, tapi mengapa perubahan itu sangat sulit?!
Dia itu laki-laki, seharusnya
aku bisa lebih rajin darinya karena aku adalah seorang perempuan. Tetapi
mengapa aku tidak bisa menandinginya?! Huuhh yasudahlah, aku terima takdir
saja. Mungkin aku tidak ditakdirkan menjadi perempuan seutuhnya. Tetapi aku
akan terus mencoba.
Hari demi hari, selalu kuhabiskan
dengan omelan mama. Aku bangun siang lah, tidak bisa mencuci baju lah, kamar
berantakan lah, aahh sepertinya kesalahanku sangat banyak! Dan pada suatu hari,
dia berkunjung kerumahku. Kami memang sangat jarang bermain dirumahku karena
aku tidak pernah mengizinkan dia masuk dengan alasan yang sangat tidak masuk
akal. Sebenarnya, aku hanya ingin mamaku tidak membandingkanku dengan dia
ketika kami sedang bermain. Dan pada hari itu dia berhasil masuk kerumahku
karena diperbolehkan oleh mamaku. Matilah aku! Belum apa-apa saja mamaku sudah
menceritakan semua kejelakanku kepadanya, dan untungnya dia hanya senyum kecut
mendengar semua itu. Dan ‘TARAAAA!’ aku sangat malu ketika dia melihat isi
kamarku. Itu sangat berantakan dan tidak enak dilihat. Alhasil, dia mengajakku
membereskan kamar. Itu adalah hal yang tidak biasa aku kerjakan! Tetapi,
ternyata itu tidak seburuk yang aku pikirkan. Ternyata itu sangatlah mudah dan
menyenangkan. Dan hasilnya, kamarku menjadi bersih, tertata dan sangat nyaman.
Berawal dari situ, hidupku sedikit berubah. Aku tidak seberantakan sebelumnya.
Dan akhir-akhir ini dia sering menasehatiku untuk merawat segala yang aku
punya.
Suatu ketika kami akan
menghadapi Ujian Nasional tingkat SMP. Segalanya telah kami persiapkan
matang-matang. Mulai dari jasmani sampai rohani. Aku mulai terbiasa bangun
pagi, sangat pagi karena aku mulai ingin mengerjakan sholat tahajud sesuai
saran darinya dan dari orang tuaku dan sepertinya itu merupakan salah satu
usaha untuk mencapai keberhasilan dunia dan akhirat. Dari waktu ke waktu
ternyata dia terus memberi pengaruh positif dalam hidupku. Aku sangat bersyukur
mempunyai sahabat seperti dia. Diapun selalu memotivasiku untuk terus belajar.
Ujian sudah didepan mata.
Sepertinya kami sudah sangat matang untuk itu. Hari pertama berjalan sangat
baik dan sesuai rencana. Hari kedua pun begitu. Hari ketiga aku menemukan
sedikit hambatan pada pelajaran IPA. Dan puncaknya hari terakhir, yaitu
matematika. Ya! Pelajaran yang sangat memuakkan bagiku, tetapi tidak baginya. Dia
sangat menyukai pelajaran itu. Aku merasa pesimis pada hari terakhir ini karena
aku tidak terlalu menguasai pelajaran ini. Dan ternyata benar! Hanya beberapa
soal yang bisa kukerjakan. Aku sangat takut, takut tidak lulus karena satu
pelajaran mematikan ini.
Dia terus memotivasiku agar aku
optimis dengan hasil ujian ini. Namun, aku tidak bisa. Hati kecilku berkata
bahwa aku tidak berhasil dalam ujian kali ini. Aku tidak tahu harus berbuat
apa, dan akhirnya aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada Allah swt.
Detik-detik terakhir disekolah
kami ini, kami habiskan di perpustakaan. Karena kami tahu, bahwa di sekolah
kami nanti, tidak akan ada perpustakan sebebas ini dengan pustakawan yang
sangat bersahabat dengan kami. Mungkin, di sekolah kami nanti perpustakaannya
akan dijaga ketat dengan peraturan-peraturan yang sangat memuakkan. Selain
membaca, kami melakukan banyak aktivitas diperpustakaan, seperti sharing, makan
siang bersama, bahkan ada salahsatu diantara kami yang menggunakan perpustakaan
sebagai tempat mereka berpacaran (don’t try this!). Kami merasa perpustakaan
ini sebagai rumah kami sendiri. Kami menemukan kehangatan, kebersamaan, dan
kebahagiaan disini meskipun kami tahu, semua itu tidak akan berlangsung lama,
sebentar lagi kami akan berpisah untuk meneruskan pendidikan kami.
Pengumuman hasil ujian nasional.
Itu yang sangat kami tunggu. Seluruh siswa tidak diperbolehkan datang
kesekolah. Hanya orang tua yang boleh datang kesekolah untuk mengambil hasil
ujian anaknya.
-Dirumah-
“Hasil ujian kita nanti gimana
ya?”
“aku sudah pasrah dengan semua
itu, aku tidak yakin akan lulus dengan nilai matematikaku yang mungkin sangat
kecil.” Kataku dengan nada pesimis
“kamu gaboleh pesimis gitu dong.
Optimis aja kalau kita semua pasti lulus, amiin.”
“iyasih, tapii…..”
“suut, cukup. Yakinkan hati kamu
kalau kamu bakalan lulus, ya?”
“iyadeeeh.”
“naah gitudoong.”
Akhirnya orangtua kami sampai
dirumah dengan membawa hasil ujian kami. Aku sangat takut, aku takut jika aku
tidak lulus, akan jadi apa aku nantinya.
Taraaaaaa! Ternyata aku lulus,
meskipun dengan hasil yang standar, diapun begitu. Namun, orangtua kami
berkata, hasil itu cukup bagus dan sangat memuaskan karena kami melakukannya
dengan sepenuh hati dan kejujuran. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik yang
diberikan Allah SWT kepada umatnya. 33,3 itu bukan angka yang kecil! Toh kalau
dirata-ratakan, nilai rata-ratanya menjadi 8,3..Alhamdulillah..
Urusan kami di SMP sudah
selesai, kami tinggal memikirkan sekolah masa depan kami, yaitu SMA. Hari demi
hari kami habiskan dengan refreshing, melepas penat, dan menghabiskan waktu
bersama teman karena sebentar lagi kami akan berpisah.
Suatu hari dia berkata kepadaku,
“apabila nanti kita harus berpisah, tolong jangan tangisi aku karena air mata
itu tidak akan merubah segalanya” aku sungguh tidak mengerti apa yang ia
maksud, aku bingung, tetapi dia tidak pernah mencoba menjelaskan apapun
kepadaku.
Perpisahan..ya! sekolah kami
akan mengadakan perpisahan. Sedih memang, tapi..sudah hukum alam bahwa disetiap
pertemuan pasti akan ada perpisahan. Perpisahan disekolah kami diadakan secara
sederhana, hanya mengadakan beberapa acara pelepasan disekolah. Semua anak
laki-laki diwajibkan memakai stelan kemeja dan jas, sedangkan perempuan
diwajibkan memakai dress batik. Perpisahan tersebut diadakan tanggal 12 Juni
2010 dan kami, Chiloful! diminta untuk membawakan beberapa lagu diacara
tersebut. Oiya, aku hampir lupa. Kami itu membuat suatu band amatiran yang
bernama Childrens of Revolution atau secara singkatnya Chiloful! Dan anggotanya
adalah, Naufal sebagai violist, Ruri sebagai Guitarist, Silmi sebagai
Keyboardist, Abror sebagai Drumer, dia sebagai Bassist dan back sound, dan aku
sendiri sebagai Vokalist. Tetapi kali ini aku menolak tawaran itu, sungguh
aneh. Tidak biasanya aku menolak tawaran manggung, dan ujung-ujungnya aku
dimusuhi mereka karena mereka bilang, aku menghancurkan harapan mereka.
Satu-satunya tumpuan mereka adalah aku, jika aku menolaknya..mereka tidak bisa
melakukan apa-apa selain mencari penggantiku. Dan akhirnya mereka sudah
mendapatkan penggantinya. Dia..! dia yang menggantikanku. Meskipun begitu,
tetap saja teman-temanku memusuhi ku -______-
-12
Juni 2010-
Perpisahan dimulai pukul 09:00.
Semua siswa dan siswi telah bersiap dengan pakaian terbaik mereka pada hari
itu. Begitupun teman-temanku, mereka telah menyiapkan segalanya untuk penampilan
mereka nanti. Aku hanya bisa menyemangati dari jauh karena rasa kesal mereka
terhadapku masih belum sirna. Ya..tidak apalah, yang penting aku tidak pernah
merasa kesal atau benci sekalipun kepada mereka, termasuk dia…
Sekarang giliran mereka tampil.
Membawakan sebuah lagu yang membuat semua merasa tersentuh. Aku sempat
merekamnya dalam handphoneku dan ternyata suara dia sangat indah. Ternyata
chiloful! Memang telah menemukan pengganti yang tepat dan lebih sempurna dariku.
Setelah penampilan perdananya
menjadi vokalis, ia jatuh sakit. Ia jarang sekali keluar rumah, akhirnya aku
memutuskan untuk berkunjung kerumahnya. Ternyata benar, dia memang sakit dan
sekarang sedang ada dirumah sakit. Aku bergegas memberitahu semua temanku.
-di
rumah sakit, 18 Juni 2010-
“assalamu’alaikum”
“waalaikumsalam. Eh kalian, sini
masuk” jawabnya
“iya, makasih. Kamu sakit apa
sih Rey?”
“Cuma sakit tifus ko,
gapapa..sebentar lagi juga Insya Allah sembuh”
“oh, bener bentar lagi sembuh?”
“doain aja ya. Hem..makasih ya
udah mau nyempetin buat datang jenguk aku”
“iya, sama-sama Rey. Kita pulang
dulu ya, udah mau habis kan jam besuknya. Cepet sembuh ya Rey. Assalamualaikum”
“oh iya. Makasih ya.
Waalaikumsalam”
Setelah mereka pergi, aku
berniat masuk ke kamarnya. Dan dia menyambutku dengan baik. Aku kira, dia kesal
kepadaku tapi ternyata tidak! Akunya saja yang suudzan terhadap dia dan
teman-temanku yang lain. Hari itu aku menghabiskan waktu bersamanya dan
mamanya. Baru sekarang aku merasakan hangatnya persahabatan, indahnya
persahabatan, dan kebersamaan. Itu adalah hal-hal yang sangat aku rindukan.
Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke 15, aku sudah menyiapkan sesuatu
untuknya, aku sudah tidak sabar menunggu besok. Karena hari sudah sore maka aku
harus cepat pulang sebelum mama mulai mengomel lagi. Sebelum pulang, dia
mengatakan sesuatu yang dulu pernah ia katakan kepadaku “apabila nanti kita
harus berpisah, tolong jangan tangisi aku karena air mata itu tidak akan
merubah segalanya” kata-kata itu masih menjadi teka-teki, dan akhirnya aku
menanyakan apa maksud dari kata-kata itu.
Ternyata.. dia memberiku sebuah
kejutan, sebuah kejutan yang menyedihkan, sebuah kejutan yang tidak ada
seorangpun yang ingin mendapatkannya, sebuah kejutan yang benar-benar
mengejutkan, bahkan apabila aku harus memilih, aku lebih memilih untuk tuli
daripada harus mendengar semua itu. Dia memberitahuku tentang penyakit yang
sebenarnya. Dia menderita kanker hati, seperti almarhum kakaknya dulu. Ironis…
serasa dunia berhenti berputar sejenak apalagi ketika ia bilang, umur bagi
penderita kanker hati dari lahir itu hanya bertahan sampai 8 tahun, sedangkan
dia masih bertahan sampai 15 tahun. Maka dari itu, waktu dia didunia ini tidak
lama lagi.
Tidak terasa air mataku menetes,
semua memori masa lalu bersamanya terulang kembali. Dia telah berhasil merubah
hidupku 180 derajat! Aku tidak tahan lagi berada disini, rasanya aku ingin
pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dan berteriak sekencang-kencangnya. Aku
bergegas keluar untuk pulang. Dijalan, perasaanku sudah tidak karuan.
Perasaanku tidak enak, takut terjadi sesuatu.
Pukul 19:19 handphoneku
bergetar, dan ternyata mamanya Rey yang meneleponku. Dengan ragu kuangkat
telepon itu, dan…
“assalamu’alaikum”
“waalaikumsalam, Dey ibu mau
kasih tau sesuatu”
“tentang apa, Bu?”
“tentang Rey”
“ada apa sama Rey, Bu?”
“sekitar sepuluh menit yang
lalu, dia sudah tidak disini bersama kita” suaranya terisak.
“maksudnya Bu?”
“Rey..Rey..sudah meninggal Dey”
suara tangis itu kini makin jelas.
“Innalillahi..itu semua bener
Bu?”
“bener nak, Dey kesini ya
sayang. Rey tadi nitipin sesuatu ke ibu buat Dey”
Semua itu seperti mimpi.
Beberapa jam yang lalu aku masih bersamanya! Aku sungguh menyesal telah
meninggalkan rumah sakit lebih cepat. Andai saja tadi aku masih berada disana
bersama Rey. Aku berlari meninggalkan rumah dan tidak memperdulikan apapun.
Bahkan, aku samasekali tidak menghiraukan air mataku yang mengalir.
=di
rumah sakit=
Aku berlari menuju kamar Rey.
Aku masih terus berharap semoga semua ini bohong dan hanya mimpi buruk yang
tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sesaimpainya dikamar Rey, aku menemukan
keramaian. Semua keluarganya ada disana. Aku tidak kuat menahan air mataku, aku
tidak kuat membayangkan itu, kepalaku terus berdenyut, otakku terus memutar
memori masa laluku bersama Rey. Lalu, wanita itu menghampiriku dan langsung
memelukku dengan erat.
“tadi Rey ngasih sesuatu sama
ibu, katanya ini buat kamu..” kata wanita itu sambil menyodorkan kotak yang
dibungkus dengan rapi.
“apa ini bu? Dey juga punya
sesuatu buat Rey. Besok kan Rey ulang tahun, ko Rey yang ngasih ke Dey?”
“kurang tau sayang, sepertinya
hadiah ini sudah disiapkan Rey dari jauh-jauh hari”
|
Untuk sahabatku, Deyra Putri..
Hey Dey,
aku seneng banget punya sahabat kayak kamu. Karena kita banyak perbedaan
dan perbedaan itulah yang membuatku nyaman. Terimakasih atas semua yang
udah kamu kasih ke aku. Dey, aku ukir nama kita di jam tangan itu supaya
kamu masih tetep inget sama aku, sama persahabatan kita. Mungkin ketika aku
tulis surat ini, umurku sudah tidak lama lagi. Maaf kalau selama ini aku
gak ngasih tau apapun tentang penyakitku. Aku hanya gak ingin kamu
kepikiran itu, aku gak ingin ujian kamu terganggu, dan aku gamau jadi beban
di hidup kamu. Aku takut kamu menjauh dari aku, aku takut kamu gamau
temenan lagi sama aku.
Dey, janji
ya..jam tangan itu gaboleh dibuang apapun yang terjadi. Sampai jam tangan
itu rusak pun kamu harus tetep simpan jam tangan itu. Dan kamu harus janji!
Kamu gaboleh nangis dengan apa yang telah terjadi ketika jam tangan ini
menjadi milikmu.
Maaf untuk
segala sesuatu yang dulu kulakukan. Semoga semuanya dapat menjadi amal
ibadah kepada Allah SWT. Semangat Deyra!
Aku yakin, kamu akan mendapatkan
sahabat yang lebih baik dariku. Dan mungkin suatu saat nanti kau akan
menemukan pasangan hidup yang sangaaaaat baik, aamiin..
Dey, surat
ini sampai ditangan kamu ketika ragaku ini sudah tidak berdaya melakukan
sesuatu, ketika jiwa ini sudah sangat rapuh, dan ketika ruh ini mulai
memberontak keluar. Kini hanyalah amalku yang bisa menolongku di kehidupan
kelak. Tolong doakan aku dan tolong jangan tangisi aku.
Terimakasih untuk semuanya,
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh…
Sahabatmu,
Rayhan Hilmi Nurazhar
|
Apa yang ia berikan selama ini
kepadaku sangatlah berharga. Ia mengajariku bagamana cara menjalani hidup
dengan penuh kesabaran. Dia sahabat yang baik yang pernah kutemukan. Rasanya,
ingin sekali aku melakukan tawar-menawar kepada Tuhan agar dia tidak kembali
kepada-Nya secepat itu. Tapi, bagaimanapun itu sudah takdir-Nya. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa selain mendoakannya.
Selama ini, aku belum pernah memberi
sesuatu kepadanya. Sesuatu yang berharga. Sesuatu yang dapat mengingatkannya
tentangku. Aku ingin sekali membuat dia bahagia, tetapi aku tidak tahu
bagaimana caranya. Dan mulai hari ini, tepatnya hari ulangtahunnya yang ke-15
aku akan memberikan sesuatu yang sederhana tetapi Insya Allah akan menolongnya.
Aku akan terus mendoakannya. Memang hadiah ini tidak mewah, tapi aku harap ini
sangat berguna untuknya, aamiin..
HAMASAH! :)








0 Response to "Untukmu, sahabatku.."
Posting Komentar