5 Januari 2011
Hari ini sedang liburan dan
katanya akan ada pengajian untuk anak kecil dan remaja. Kami masih bingung,
siapa yang akan mengajari kami mengaji? Katanya sih seorang mahasiswa yang mengontrak
dirumah sebelah rumah Bu Tata. Adzan maghrib berkumandang, setelah sholat
maghrib kami pergi mengaji, sangat semangat karena itu hari pertama dan kami
ingin mengetahui siapa guru kami.
-dirumah Bu Tata-
Kami baru
datang, dan ternyata guru ngaji kami sudah terlebih dahulu datang. Suasana
disini sangat ramai karena banyak yang mengikuti pengajian ini. Pertama kami
melakukan perkenalan. Ternyata.. namanya adalah Faisal, ya! Kak Faisal, begitu
kami biasa memanggilnya. Setelah perkenalan, Kak Faisal mengajak kami untuk
menghapal juz 30. Dimulai dari surah An-Naba’. Hanya 5 ayat kami sempat
menghapalnya karena adzan Isya telah berkumandang. Pengajian hari itu disudahi
sampai Isya dan dilanjutkan nanti hari Sabtu.
Keesokan harinya kami membicarakan
kesan pertama mengaji kemarin dan ternyata responnya biasa saja. Tidak ada
sesuatu yang menarik.
-Hari Sabtu-
Kami mengaji kembali, untuk
kedua kalinya. Beberapa anak kecil ada yang mengundurkan diri, salah satu
remajanya pun ada yang mengundurkan diri. Awalnya mereka tidak bilang akan
berhenti mengaji, mereka bilang, mereka tidak ada waktu untuk mengaji karena
disekolahannya banyak sekali tugas. Ruangan disitu pun menjadi agak renggang,
dan suasananyapun tidak seberisik sebelumnya.
Hari demi hari telah kami lalui
dan pada suatu waktu, ada kabar bahwa pengajian untuk anak kecil dan remaja
menjadi dipisah. Untuk anak kecil menjadi hari Rabu dan untuk remaja menjadi
hari Sabtu. Katanya sih sebab dipisah itu agar lebih efektif dan agar tidak
terlalu berisik.
Suatu hari di pengajian remaja,
aku dan temanku mencoba bercanda agar suasananya tidak terlalu tegang, dan
ternyata yang ikut tertawa hanya kami, murid-murid. Sedangkan gurunya? Dengan
ekspresinya yang datar itu tidak pernah merespon candaan kami. Mungkin..dia
belum bisa beradaptasi, apalagi kami semua perempuan sedangkan dia laki-laki.
Dan pada saat pengajian anak kecil, berisiknya minta ampun. Sampai-sampai guru
kami sering marah sampai melontarkan hukuman-hukuman kepada yang berulah.
Tibalah pada suatu hari dimana
hari itu sangat aneh. Kami heran dengan tingkah guru kami. Ketika dia membuka
SMS masuk di ponselnya, dia tersenyum, lebar sekali! Baru pertama kalinya kami
melihat ia sebahagia ini. Kami sangat bertanya-tanya, ada apa dengan guru kami?
Dan kami makin heran ketika kami sedang bercanda. Biasanya guru kami tidak
pernah ikut tertawa, tapi sekarang..ia bercanda bersama kami. Meskipun kami
bingung, tapi kami sangat senang karena guru kami sedikit berubah.
Semakin lama, kelakuan guru kami
semakin berubah. Kini, ia menjadi guru yang menyenangkan dan kami suka itu.
Akhirnya kami sepakat, mulai hari itu kami menganggap ia kakak. Ya! Karena
sebagian besar diantara kami tidak mempunyai sosok seorang kakak apalagi kakak
laki-laki.
Suatu hari
kami diberi tugas oleh kakak kami. Itu adalah pertama kalinya ia memberikan
kami tugas. Awalnya kami tidak terima semua itu karena tugas itu sangat banyak
dan kami masih punya banyak urusan sekolah. Tetapi, kakak kami adalah tipikal
orang yang keras kepala, akhirnya kami terima semua itu. Dan ternyata, tugas
tersebut harus dikumpulkan hari Kamis! Hari Kamis itu kan bukan jadwalnya kami
mengaji. Haduuh sungguh memberatkan. Tetapi kami harus mencoba menjalaninya
meskipun itu sangat berat.
Setiap hari, setiap sore kami
selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas tersebut secara bersama-sama
dirumah Nita. Dan rumah Nita itu disebelah rumah Kak Faisal, sehingga kami
selalu was-was ketika mendengar suara motor yang mirip suara motor Kak Faisal.
-flashback-
Waktu itu kakak kami mengajak
kami Mabit di masjid Habiburrahman. Dan karena kami perempuan, maka kami juga
akan ditemani kakak mentor kami yang bernama Kak Ima. Kak Ima pun adalah salah
seorang guru kami, tetapi jarak rumahnya terlalu jauh dengan kami sehingga kami
hanya bisa bertemu seminggu sekali dengan Kak Ima. Kami pergi ke masjid
tersebut, dan ketika kami sampai, kami langsung melakukan kegiatan yang
seharusnya dilakukan. Pukul 00:30, rencananya akan diadakan sholat tahajud
berjamaah. Kami bangun pada pukul 01:00 dan ternyata sholat tahajud tersebut
dilaksanakan pada pukul 01:30 sampai menjelang adzan shubuh. Kami sudah
membayangkan, sholat itu lama sekali sehingga kami harus kuat berdiri. Ternyata
kami hanya bertahan sampai rakaat kedua. Dan di rakaat kedua tersebut kami
sudah tidak bisa berkonsentrasi sehingga kami melihat kedepan. Kesembarang
arah. Dan pandanganku tertuju pada kotak amal berwarna hijau yang terletak di
area laki-laki. Disisi kotak amal tersebut, aku samar-samar melihat seorang
laki-laki yang sedang memperhatikan kami dan dia memakai jaket berwarna hijau.
Aku sudah menduga bahwa dia adalah Kak Faisal, tetapi aku merasa dugaanku salah
ketika aku memalingkan wajah kedepan dan melihat seorang laki-laki yang sedang
sholat, memakai jaket hitam dan berperawakan tinggi seperti Kak Faisal. Dan aku
ingat sekali, bahwa tadi sore aku melihat Kak Faisal memakai jaket berwarna
hitam. Tidak mungkin lelaki yang berada disebelah kotak amal itu Kak Faisal!
Kami sampai di rakaat kedua.
Kami sudah tidak kuat dan akhirnya kami mundur, diam menyandar di tembok.
Ketika itu, kami berbincang masalah lelaki kotak amal itu. Dan ternyata ada
salah satu temanku yang melihat jelas bahwa ia benar-benar Kak Faisal. Aku
sangat malu ketika temanku mengatakan itu karena ketika aku sedang sholat tadi,
pandanganku sangat sembarang.
Tiba-tiba lelaki kotak amal itu
berdiri dan pindah tempat duduk ke dekat hijab antara laki-laki dan perempuan.
Ternyata ia hendak tidur, kami juga sangat mengantuk sehingga kami memutuskan
untuk tidur karena kami berpikir, apabila ia benar Kak Faisal, mengapa ia boleh
tidur sedangkan kami tidak? Semenjak kejadian itu, kami memberi judul pada
kejadian itu “Buronan Part 1” karena kami merasa seperti buronan yang
gerak-geriknya selalu dilihat oleh Kakak kami.
-kembali ke topik awal-
Hari ini hari kamis, dan sudah
seharusnyalah kami mengumpulkan tugas kami. Tetapi, belum ada seorangpun
diantara kami yang sudah menyelesaikannya. Untungnya kami masih mempunyai
beberapa jam lagi untuk mengerjakannya. Tepat ba’da Isya kami selesai
mengerjakan tugas tersebut. Dan kami akan kerumah Kak Faisal untuk
mengumpulkannya. Setelah sampai didepan rumah Kakak, kami mencoba memanggil
dengan mengucapkan salam, berkali-kali kami mengucapkan salam tetapi tidak ada
respon sedikitpun. Dan dirumah Nita pun begitu. Sepertinya memang tidak ada
orang di kedua rumah tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk menelepon Kakak,
tetapi tidak ada seorangpun diantara kami yang mempunyai nomor ponsel Kak
Faisal. Akhirnya kami mencoba menanyakan nomor Kak Faisal kepada Kak Ima.
Setelah mendapatkan nomornya kami langsung menelepon dan tidak lama kami
menunggu, Kakak langsung mengangkat telepon dari kami.
“assalamu’alaikum
kak..”
“waalaikumsalam.
Iya dek, ada apa?”
“gini kak,
kami mau tanya..kakak pulang jam berapa ya?”
“jam
sembilanan dek, emang ada apa?”
“masa
kakak lupa. Kan kami mau ngumpulin tugas kak. Sekarang kami udah ada didepan
rumah kakak.”
“astaghfirullah,
maaf dek kakak lupa. Yaudah, simpan saja di teras rumah kakak, diatas jemuran
aja ya dek takutnya kalau dibawah diacak-acak sama kucing.”
“iya kak.
Yaudah atuh ya kak. Makasih kak, assalamu’alaikum..”
“waalaikumsalam”
Kesal? Ya!
Memang itu yang ada di benak kami kali ini. Kami telah mengerjakan tugas itu
dan yang memberikan tugas itu dengan entengnya berkata lupa dan ketika kami
hendak mengumpulkan, kakak kami itu tidak ada. Kami hanya bisa mencoba untuk
bersabar dan mengambil hikmah dari kejadian itu.
Hari demi hari kami lewatkan
dengan serial buronan kami, sudah beberapa part telah kami lewati. Berlari,
bersembunyi, malu, semua itu kami rasakan ketika kami bertemu kakak kami itu.
Kami tidak tahu mengapa. Kadang kami berpikir, apa yang salah darinya sampai-sampai
ketika kami bertemu langsung menghindar. Pertanyaan itu masih belum terjawab.
Ternyata sikap manusia itu
memang selalu berubah-ubah. Terbukti pada kakak kami itu. Ada saatnya dimana ia
sedang bad mood dan sedang hobi memberi tugas dan hapalan. Spontan kami kaget
dan mencoba membujuk agar tugas dan hapalan itu dikurangi. Tetapi tidak mempan,
ia malah melemparkan hukman bagi yang tidak mengerjakannya.
Kami kelabakan karena kebetulan
minggu ini kami mendapatkan tugas yang sangat banyak disekolah, ditambah tugas
ditempat mengaji, belum lagi beberapa ulangan yang telah menunggu kami. Minggu
ini benar-benar sangat sibuk. Ingin rasanya kami menceritakan ini semua kepada
kakak kami itu, tetapi kami takut dihukum apabila kami membicarakan itu.
Akhirnya kami memendam kesibukan kami ini.
Ternyata kami bisa
menyelesaikannya meskipun itu memang agak sulit. Tetapi, hapalan kami memang
masih samar-samar. Kami terus mencoba menghapal dimanapun kami berada, entah
itu disekolah, dirumah, ketika kami sedang bermain, sebelum tidur, bahkan
diperjalanan pulang-pergi sekolah pun kami terus menghapal. Untungnya semua itu
membuahkan hasil, kami hapal surat tersebut.
Hari Sabtu, sudah saatnya kami
mengaji. Kami sudah menyiapkan tugas kami untuk diperiksa oleh kakak, kami pun
sudah menyiapkan hapalan kami. Hari itu, kami melihat kakak kami sedang sedikit
bad mood, kayaknya sih mungkin karena baru sembuh sakit. Ya, kami maklum!
Tes hapalan berjalan lancar, PR
kami pun diminta dikumpulkan, kami senang karena apa yang telah kami lakukan
kali ini benar-benar tidak sia-sia seperti sebelumnya. Tapi……tunggu! Kesenangan
kami hancur ketika minggu depannya kakak mengembalikan buku kami. Tugas kami
tidak disentuh sedikitpun! Tidak ada goresan tinta darinya, sedikitpun tidak
ada! Untuk kesekian kalinya kami merasa kecewa padanya. Dan untuk melampiaskan
kekecewaan kami itu, kami curhat kepada mentor kami, Kak Ima. Sebelumnya memang
kami sudah bilang ke Kak Ima agar apa yang kami bicarakan padanya tidak
diberitahukan kepada Kak Faisal. Tetapi, keesokan paginya Kak Ima
memberitahukan itu semua kepada Kak Faisal. Sontak kami kaget! Kami merasa
bersalah, kami takut, takut kakak kami itu kecewa pada kami. Kami sudah tidak
tahu lagi harus melakukan apa. Hanya diam dan merasa tidak terjadi apa-apa.
Mengaji hari ini memang sangat
membetekan. Kakak kami masih agak bad mood dan sepertinya ia belum sembuh
total. Tiba-tiba di sela sharing kita, ia berkata, “kakak mau minta maaf sama
kalian. Maaf kalau tugasnya belum kakak periksa. Kemarin kakak sakit dan kakak
masih sibuk, jadi tugas kalian belum sempat kakak periksa. Sekarang, bukunya
boleh dikumpulkan lagi ke kakak. Dan satu lagi, mulai sekarang kakak gak akan
memberi kalian tugas sekaligus hapalan. Kakak hanya akan memberikan salah
satunya. Dan untuk hapalan, kakak tidak memaksa. Terserah kalian mau hapal atau
tidak, kakak hanya menarget dan tidak akan memberikan hukuman.”
Apa yang terjadi? Kami
bertanya-tanya. Ya! Kami senang, itu adalah kabar gembira. Tapi, kami merasa
tidak enak karena telah kesal, suudzan kepadanya karena tugas kami belum
diperiksa. Seandainya waktu itu kami tahu keadaan kakak kami, mungkin kami
tidak akan merasa kesal dan seandainya waktu itu kakak mengabari kami tentang
keadaannya, mungkin kami tidak akan suudzan padanya.
Semakin lama, kakak kami semakin
berubah. Ia jarang berada dirumah karena kesibukkannya. Dan akhir-akhir ini ia
jarang memberi kami tugas. Memang aku senang, tapi mengapa aku merasa ada yang
kurang? Padahal, berkurangnya tugas itu merupakan hal yang sangat membahagiakan
bagi sebagian orang. Rasanya, aku lebih suka kakak yang dulu. Tetapi, teman
temanku lebih suka kakak yang sekarang.
Aku merasa, kakak yang sekarang
seperti kakak yang dulu, yang pertama kami bertemu. Aku tidak suka itu, aku
tidak suka orang yang terlalu membuat serius suatu hal. Dan ternyata,
teman-temanku sependapat denganku meskipun tentang tugas, mereka tak sependapat
-___-
Kami terus berusaha membuat
kakak kami ceria kembali seperti dulu, dan suatu saat kami berhasil. Waktu itu,
kakak mengajak kami refreshing, rencanaya sih ke Gunung Puntang dan ketika kami
membicarakan tentang kendaraan yang akan kami gunakan nanti, kami sempat
bercanda dan kakak ikut bercanda bersama kami. Sepertinya pada saat itu kakak
memang suasana hatinya sedang senang.
Kekecewaan pun menghampiri kami
lagi. Acara refreshing itu tidak jadi dikarenakan kakak ada acara di kampusnya.
Akhirnya kami hanya pergi ke kompleks sebelah, d’amerta! Bosan memang. Kami
rasa, itu tidak ada spesialnya samasekali karena kami bisa pergi ke tempat itu
kapanpun kami mau. Kakak akan mengadakan suatu games disana, memang sih
gamesnya seru tetapi kami tetap saja merasa kecewa pada hari itu karena tidak
jadi pergi. Ingin rasanya melampiaskan kekesalan kami, tetapi apa boleh buat,
kami hanya bisa bersabar,bersabar dan bersabar. Dan kakak bilang, minggu depan
saja kita refreshingnya. Itu yang membuat kekecewaan kami terobati.
Ternyata minggu depannya tidak
jadi lagi, katanya sih minggu ini semua sedang sibuk, termasuk aku. Akhirnya
diundur menjadi minggu depan tepatnya hari minggu. Kami semua senang karena
senin sampai selasanya kami libur sehingga refreshing itu bisa sangat
dinikmati. Tapi ternyata, itu diundur lagi menjadi hari selasa. Ya tidak
apalah, hanya beda dua hari dengan hari minggu. Semuanya telah kami persiapkan,
dari mulai biaya sampai segala sesuatu yang kami butuhkan untuk disana, di Dago
Pakar. Kami sudah sangat semangat dan sangat tidak sabar menanti hari itu.
Tetapi ketika Jum’at malam aku diberitahu oleh temanku bahwa piknik kita kali
ini gagal lagi. Kecewa, bosan, kesal, semua menjadi satu! Semua itu dikarenakan
kakak ada acara bersama teman-temannnya. Yaaa..sekali lagi kami harus tetap
bersabar. Hingga akhirnya piknik tersebut diundur minggu depan.
Aku pesimis itu akan jadi. Aku
pikir, itu hanya basa-basi-busuk, omong kosong belaka karena sudah sebulan
lebih diundur terus dan sampai sekarang itu belum terlaksana. Aku berniat untuk
tidak ikut kali ini dengan alasan akan menghadapi ujian praktek. Memang benar, aku
akan melaksanakan ujian praktek! Tetapi teman-teman aku memaksa aku untuk ikut.
Aku bimbang antara ikut atau tidak karena aku pesimis itu akan terlaksana.
Tetapi, teman-teman bilang “apapun yang terjadi, sekarang harus jadi! Tanpa
kakak pun tak apa. Yang penting acara kita kali ini jangan sampai gagal!”
akhirnya mereka berhasil membujukku, aku ikut!
Sabtu 21 Mei 2011
Hari ini
benar-benar hari yang sangat berkesan bagiku dan bagi teman-temanku.
Alhamdulillah, kali ini kakak mau meluangkan waktunya untuk bersama kami seharian.
Meskipun refreshing ini sangat membuat kami lelah mental dan fisik, kami tetap
merasa senang. Sepertinya, kakak kamipun ikut merasa bahagia, mungkin karena
kakak bisa dengan leluasanya mengerjai kami dengan games-gamesnya yang geje itu
sehingga hari ini kakak sangat bahagia -_______-
Kami tidak menyangka, ternyata
kami itu sangat kompak dan kakak kami itu tidak seburuk yang kami kira. Ia
adalah tipikal orang yang bertanggung jawab, sabar, dan bisa membuat kami
bahagia ^^
Tidak terasa, sebentar lagi
kakak akan meninggalkan Bandung untuk sementara waktu, yaa sekitar tiga bulan
untuk menyelesaikan tugas kuliahnya di Medan. Kami sudah menyiapkan seribu
rencana untuk membuat sesuatu yang berkesan dan mudah diingat oleh kakak selama
bertugas. Rencana kami, kami akan menjadi adik yang tidak seperti biasanya.
Kali ini kami akan menentang semua peraturan kakak, kami berpura-pura tidak
mengerjakan tugas, kami tidak akan bersabar demi kakak lagi dan kami akan
melakukan kebisingan ketika hari terakhir mengaji. Dan kami akan terus berusaha
untuk membuat kakak kami marah besar kepada kami. Kami hanya ingin menepati
janji kami, yaitu memberikan kakak suatu kejutan. Dan inilah kejutannyaa….
Kami tidak jadi melakukan semua
itu, karena sebelumnya ada suatu kejadian yang membuat kami pesimis itu akan
berhasil. Yaitu ketika ulangtahun Nita. Kami meminta kakak untuk beracting,
marah-marah ke Nita dengan alasan tidak mengerjakan tugas. Tetapi kakak bilang,
“kakak gabisa marah.” Aneh memang, tapi..yasudahlah.
-malam ahad-
Mengaji hari ini sepertinya
membosankan. Sangat membosankan. Kami hanya diam sampai adzan isya menunggu
anak-anak kecil mengaji. Gejeeee! Dan ternyata benar! Hari ini memang geje!
Hari ahad subuh, kami mengaji lagi. Itupun hanya 30 menit dan tidak jelas! Heuh,
akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Metro. Disana kami bermaksud untuk
membeli rok, tetapi rok yang kami cari tidak ada. Lalu kami mampir ke toko
*tuuuuuuuuuut* untuk melihat kemeja. Kemeja itu untuk kakak kami, kami berniat
untuk membelikan kakak kami sesuatu yang berguna selama ia di Medan sana. Dan
kami mendapatkannya!
Ya! Itulah surprise yang telah
kami janjikan untuk kakak. Memang sangat sederhana, tapi kami harap itu sangat
berguna dan terpakai.
Tanggal 12 Juni nanti rencananya
akan diadakan lomba. Lomba untuk kami, kakak bilang sih begitu. Dan diadakannya
di mesjid Al-Ukhuwah. Kami sangat tidak ingin mengikuti lomba itu!
Tidaktidaktidak! Tetapi kakak memaksa kami untuk itu -___- yaokelah kalau
pesertanya hanya kami. Tetapi ternyata! Satu RW! Betapa banyaknya peserta lomba
itu, belum teman-teman kakak yang tidak kami kenal, haduuuuh! Dan parahnya
lagi, ternyata kami dibujuk untuk mengikuti lomba tausyiah. Didepan umum? Pake
microphone? Oh tidaaaak!
-12 Juni 2011-
Tidak ada persiapan apapun yang
bisa kami lakukan. Kami tidak suka yang mendadak! Materi tausyiahnya pun yang
dulu kami pernah sampaikan. Betapa mendadaknya! -___- dan ada satu kejutan lagi
untuk kami, yaitu….tausyiah ada jurinya dan kakak bilang, dia itu ustadz!
Sungguh menyebalkan! Sepertinya kakak memang sedang mengerjai kami! Oke no
problem, kami akan coba membuat kakak bahagia di hari-hari terakhirnya bersama
kami.
Sepertinya kami sependapat.
Ustadz itu menyebalkan sekali! Aaah kami tidak suka! komentarnya gabanget!
Ingin rasanya lomba itu cepat selesai.
Kami sedang beristirahat sehabis
sholat dzuhur di rumah Bu Dede. Aku membawa secarik kertas untuk menghapal
karena besoknya aku masih harus menjalani kejamnya UKK. Temanku Hisma
membantuku menghapal, dan setelah merasa bosan, aku, Hisma, dan Fifi memainkan
suatu permainan jari. Seru sekali, tetapi tiba-tiba Kak Faisal menyuruhku
membeli plastic untuk membungkus hasil karya anak-anak kecil yang tadi
mengikuti lomba mewarnai. Aku dan Fifi pun pergi mencari plastic itu. Susah
memang, kami sudah mencari ke beberapa grosir, warung, sampai tempat fotokopi,
tetapi hasilnya nihil. Akhirnya kami pulang untuk memberitahu kakak bahwa
plastic itu tidak ada. Dijalan kami bertemu “gunggung” yang waktu itu pernah
mengejar kami. Meskipun kami naik motor, tetap saja gunggung itu mengejar kami
untuk kami tidak apa-apa. Ketika sampai dirumah Bu Dede, kakak menyuruh kami
mencari lagi. Oke kami pergi lagi. Sampai ditempat fotokopi yang belum kami
jamahi, ibu penjaga toko itu memberitahu kami bahwa didepan ada toko bernama
“ALADIN” yang menjual berbagai macam plastic. Alhamdulillah kami menemukannya :)
Sekitar pukul 16:00 pemenang
lomba diumumkan. Dari mulai lomba mewarnai, lomba adzan, lomba hapalan, hingga
lomba tausyiah. Diantara kami yang memenangkan lomba itu adalah Nita dan Hisma,
sebagai juara 3 dan 1 :)
Sepertinya kami sedih
ditinggalkan kakak. Meskipun kakak agak sedikiiiiiiit nyebelin, tapi
bagaimanapun kakak telah merubah hidup kami. Asalnya kami tidak pernah
menyempatkan diri untuk menghapal beberapa surat di juz 30, tetapi sekarang
kami menjadi penghapal. Dan intinya, kakak telah merubah hidup kami.
Terimakasih Kak Faisal Azhar Harahap =)
Hanya Ini..
Terimakasih kak, terimakasih dari kami yang
sebesar-besarnya. Tidak banyak kami membuat kakak senang, tidak banyak kami
membuat kakak bangga, tidak banyak kami membuat kakak bahagia. Hanya ini…hanya
ini yang selalu kami lakukan. Mengeluh, kecewa, suudzan kepada kakak. Maafkan
kami yang selama ini selalu begini. Kami ingin menjadi murid kakak yang baik,
kami ingin ilmu yang kami terima dari kakak dapat kami terima dengan baik dan
dapat kami amalkan di dunia dan menjadi amal baik yang dapat menolong kami di
akhirat kelak. Kami ingin kakak menganggap kami sebagai adik, bukan sekedar
murid Islamiyah Smart karena kami sudah menganggap kakak sebagai kakak kami
sendiri J
Kami senang kakak dapat merubah hidup kami,
kami juga senang hidup kakak sekarang sedikit berubah. Tidak terlalu serius
seperti dulu J semoga selamanya akan selalu begitu dan semoga
kami masih bisa belajar bersama kakak. Semoga kita bisa menjadi adik dan kakak
yang kompak, yang selalu berada dijalan Allah SWT, yang selalu mencari ridho
Allah SWT dan yang selalu melakukan segalanya karena Allah SWT.
Islamiyah
Smart
Devina Aulia Oktaviani
Hisma Sundari
Miranti Choirun Nida
Nuryunita Rahmawati
Riandini Nuraini
Shafira Andriyani