a little shining star: Untukmu, sahabatku..

a little shining star: Untukmu, sahabatku..: Ketika aku membuka mata dan melihat keluar jendela, dia sedang bersiap untuk pergi kesekolah dengan ransel cokelat kes...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

a little shining star: Kakakku, Guruku..

a little shining star: Kakakku, Guruku..: 5 Januari 2011 Hari ini sedang liburan dan katanya akan ada pengajian untuk anak kecil dan remaja. Kami masih bingung...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

a little shining star: Sirius Star

a little shining star: Sirius Star: If we look towards the southeast, we will see the brightest star. The solor are blue white. The star was already known since the ancien...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

a little shining star: My First Love Letter

a little shining star: My First Love Letter: for My princess heart.. Can you hear Me ? I really..really ♥ you! you know ? no one like you! can you open your heart for Me, please..?...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

My First Love Letter

for My princess heart..
Can you hear Me ?
I really..really ♥ you!
you know ?
no one like you!
can you open your heart for Me, please..?
I love you so Much and I can't to forget you.
I always waiting you..
Because, you're My everything and you're My princess heart, Mira :* ♥

Ruri Aryanto Wibawa Saputra Halim
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sirius Star

          If we look towards the southeast, we will see the brightest star. The color are blue white. The star was already known since the ancient civilizations in Egypt, China, and Greece. In Arabic, the star known as “As-Syi’ra” and in modern astronomy is known as “Sirius”.
            The uniqueness of this star is a very bright light than the other stars. The position of this star is under the first constellation Orion. Sometimes, we can see the star although the sun had not sunk.
            With the naked eye, we would see the star as a single star with blue white light. But, with sophisticated binocular can be seen that the stars is two stars are close together. The biggest star is blue, that is can be seen with the naked eye, called “Sirius A”. The second star is a small white star, called “Sirius B”. That can be seen with sophisticated binocular. Sirius B is a dwarf star, that is small but its mass is very large because Sirius B is consists of neutron.
            According to calculations made by Harvard University, Ottawa, and Leicester, one round star takes 49,9 years.
            This stars is mentioned in the Qur’an Surah An-Najm by name Syi’ra in two verses of verse 49 and verse 9.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kakakku, Guruku..

5 Januari 2011
                Hari ini sedang liburan dan katanya akan ada pengajian untuk anak kecil dan remaja. Kami masih bingung, siapa yang akan mengajari kami mengaji? Katanya sih seorang mahasiswa yang mengontrak dirumah sebelah rumah Bu Tata. Adzan maghrib berkumandang, setelah sholat maghrib kami pergi mengaji, sangat semangat karena itu hari pertama dan kami ingin mengetahui siapa guru kami.
-dirumah Bu Tata-
                Kami baru datang, dan ternyata guru ngaji kami sudah terlebih dahulu datang. Suasana disini sangat ramai karena banyak yang mengikuti pengajian ini. Pertama kami melakukan perkenalan. Ternyata.. namanya adalah Faisal, ya! Kak Faisal, begitu kami biasa memanggilnya. Setelah perkenalan, Kak Faisal mengajak kami untuk menghapal juz 30. Dimulai dari surah An-Naba’. Hanya 5 ayat kami sempat menghapalnya karena adzan Isya telah berkumandang. Pengajian hari itu disudahi sampai Isya dan dilanjutkan nanti hari Sabtu.
                Keesokan harinya kami membicarakan kesan pertama mengaji kemarin dan ternyata responnya biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menarik.
-Hari Sabtu-
                Kami mengaji kembali, untuk kedua kalinya. Beberapa anak kecil ada yang mengundurkan diri, salah satu remajanya pun ada yang mengundurkan diri. Awalnya mereka tidak bilang akan berhenti mengaji, mereka bilang, mereka tidak ada waktu untuk mengaji karena disekolahannya banyak sekali tugas. Ruangan disitu pun menjadi agak renggang, dan suasananyapun tidak seberisik sebelumnya.
                Hari demi hari telah kami lalui dan pada suatu waktu, ada kabar bahwa pengajian untuk anak kecil dan remaja menjadi dipisah. Untuk anak kecil menjadi hari Rabu dan untuk remaja menjadi hari Sabtu. Katanya sih sebab dipisah itu agar lebih efektif dan agar tidak terlalu berisik.
                Suatu hari di pengajian remaja, aku dan temanku mencoba bercanda agar suasananya tidak terlalu tegang, dan ternyata yang ikut tertawa hanya kami, murid-murid. Sedangkan gurunya? Dengan ekspresinya yang datar itu tidak pernah merespon candaan kami. Mungkin..dia belum bisa beradaptasi, apalagi kami semua perempuan sedangkan dia laki-laki. Dan pada saat pengajian anak kecil, berisiknya minta ampun. Sampai-sampai guru kami sering marah sampai melontarkan hukuman-hukuman kepada yang berulah.
                Tibalah pada suatu hari dimana hari itu sangat aneh. Kami heran dengan tingkah guru kami. Ketika dia membuka SMS masuk di ponselnya, dia tersenyum, lebar sekali! Baru pertama kalinya kami melihat ia sebahagia ini. Kami sangat bertanya-tanya, ada apa dengan guru kami? Dan kami makin heran ketika kami sedang bercanda. Biasanya guru kami tidak pernah ikut tertawa, tapi sekarang..ia bercanda bersama kami. Meskipun kami bingung, tapi kami sangat senang karena guru kami sedikit berubah.
                Semakin lama, kelakuan guru kami semakin berubah. Kini, ia menjadi guru yang menyenangkan dan kami suka itu. Akhirnya kami sepakat, mulai hari itu kami menganggap ia kakak. Ya! Karena sebagian besar diantara kami tidak mempunyai sosok seorang kakak apalagi kakak laki-laki.
Suatu hari kami diberi tugas oleh kakak kami. Itu adalah pertama kalinya ia memberikan kami tugas. Awalnya kami tidak terima semua itu karena tugas itu sangat banyak dan kami masih punya banyak urusan sekolah. Tetapi, kakak kami adalah tipikal orang yang keras kepala, akhirnya kami terima semua itu. Dan ternyata, tugas tersebut harus dikumpulkan hari Kamis! Hari Kamis itu kan bukan jadwalnya kami mengaji. Haduuh sungguh memberatkan. Tetapi kami harus mencoba menjalaninya meskipun itu sangat berat.
                Setiap hari, setiap sore kami selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas tersebut secara bersama-sama dirumah Nita. Dan rumah Nita itu disebelah rumah Kak Faisal, sehingga kami selalu was-was ketika mendengar suara motor yang mirip suara motor Kak Faisal.
-flashback-
                Waktu itu kakak kami mengajak kami Mabit di masjid Habiburrahman. Dan karena kami perempuan, maka kami juga akan ditemani kakak mentor kami yang bernama Kak Ima. Kak Ima pun adalah salah seorang guru kami, tetapi jarak rumahnya terlalu jauh dengan kami sehingga kami hanya bisa bertemu seminggu sekali dengan Kak Ima. Kami pergi ke masjid tersebut, dan ketika kami sampai, kami langsung melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan. Pukul 00:30, rencananya akan diadakan sholat tahajud berjamaah. Kami bangun pada pukul 01:00 dan ternyata sholat tahajud tersebut dilaksanakan pada pukul 01:30 sampai menjelang adzan shubuh. Kami sudah membayangkan, sholat itu lama sekali sehingga kami harus kuat berdiri. Ternyata kami hanya bertahan sampai rakaat kedua. Dan di rakaat kedua tersebut kami sudah tidak bisa berkonsentrasi sehingga kami melihat kedepan. Kesembarang arah. Dan pandanganku tertuju pada kotak amal berwarna hijau yang terletak di area laki-laki. Disisi kotak amal tersebut, aku samar-samar melihat seorang laki-laki yang sedang memperhatikan kami dan dia memakai jaket berwarna hijau. Aku sudah menduga bahwa dia adalah Kak Faisal, tetapi aku merasa dugaanku salah ketika aku memalingkan wajah kedepan dan melihat seorang laki-laki yang sedang sholat, memakai jaket hitam dan berperawakan tinggi seperti Kak Faisal. Dan aku ingat sekali, bahwa tadi sore aku melihat Kak Faisal memakai jaket berwarna hitam. Tidak mungkin lelaki yang berada disebelah kotak amal itu Kak Faisal!
                Kami sampai di rakaat kedua. Kami sudah tidak kuat dan akhirnya kami mundur, diam menyandar di tembok. Ketika itu, kami berbincang masalah lelaki kotak amal itu. Dan ternyata ada salah satu temanku yang melihat jelas bahwa ia benar-benar Kak Faisal. Aku sangat malu ketika temanku mengatakan itu karena ketika aku sedang sholat tadi, pandanganku sangat sembarang.
                Tiba-tiba lelaki kotak amal itu berdiri dan pindah tempat duduk ke dekat hijab antara laki-laki dan perempuan. Ternyata ia hendak tidur, kami juga sangat mengantuk sehingga kami memutuskan untuk tidur karena kami berpikir, apabila ia benar Kak Faisal, mengapa ia boleh tidur sedangkan kami tidak? Semenjak kejadian itu, kami memberi judul pada kejadian itu “Buronan Part 1” karena kami merasa seperti buronan yang gerak-geriknya selalu dilihat oleh Kakak kami.
-kembali ke topik awal-
                Hari ini hari kamis, dan sudah seharusnyalah kami mengumpulkan tugas kami. Tetapi, belum ada seorangpun diantara kami yang sudah menyelesaikannya. Untungnya kami masih mempunyai beberapa jam lagi untuk mengerjakannya. Tepat ba’da Isya kami selesai mengerjakan tugas tersebut. Dan kami akan kerumah Kak Faisal untuk mengumpulkannya. Setelah sampai didepan rumah Kakak, kami mencoba memanggil dengan mengucapkan salam, berkali-kali kami mengucapkan salam tetapi tidak ada respon sedikitpun. Dan dirumah Nita pun begitu. Sepertinya memang tidak ada orang di kedua rumah tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk menelepon Kakak, tetapi tidak ada seorangpun diantara kami yang mempunyai nomor ponsel Kak Faisal. Akhirnya kami mencoba menanyakan nomor Kak Faisal kepada Kak Ima. Setelah mendapatkan nomornya kami langsung menelepon dan tidak lama kami menunggu, Kakak langsung mengangkat telepon dari kami.

“assalamu’alaikum kak..”
“waalaikumsalam. Iya dek, ada apa?”
“gini kak, kami mau tanya..kakak pulang jam berapa ya?”
“jam sembilanan dek, emang ada apa?”
“masa kakak lupa. Kan kami mau ngumpulin tugas kak. Sekarang kami udah ada didepan rumah kakak.”
“astaghfirullah, maaf dek kakak lupa. Yaudah, simpan saja di teras rumah kakak, diatas jemuran aja ya dek takutnya kalau dibawah diacak-acak sama kucing.”
“iya kak. Yaudah atuh ya kak. Makasih kak, assalamu’alaikum..”
“waalaikumsalam”
Kesal? Ya! Memang itu yang ada di benak kami kali ini. Kami telah mengerjakan tugas itu dan yang memberikan tugas itu dengan entengnya berkata lupa dan ketika kami hendak mengumpulkan, kakak kami itu tidak ada. Kami hanya bisa mencoba untuk bersabar dan mengambil hikmah dari kejadian itu.
                Hari demi hari kami lewatkan dengan serial buronan kami, sudah beberapa part telah kami lewati. Berlari, bersembunyi, malu, semua itu kami rasakan ketika kami bertemu kakak kami itu. Kami tidak tahu mengapa. Kadang kami berpikir, apa yang salah darinya sampai-sampai ketika kami bertemu langsung menghindar. Pertanyaan itu masih belum terjawab.
                Ternyata sikap manusia itu memang selalu berubah-ubah. Terbukti pada kakak kami itu. Ada saatnya dimana ia sedang bad mood dan sedang hobi memberi tugas dan hapalan. Spontan kami kaget dan mencoba membujuk agar tugas dan hapalan itu dikurangi. Tetapi tidak mempan, ia malah melemparkan hukman bagi yang tidak mengerjakannya.
                Kami kelabakan karena kebetulan minggu ini kami mendapatkan tugas yang sangat banyak disekolah, ditambah tugas ditempat mengaji, belum lagi beberapa ulangan yang telah menunggu kami. Minggu ini benar-benar sangat sibuk. Ingin rasanya kami menceritakan ini semua kepada kakak kami itu, tetapi kami takut dihukum apabila kami membicarakan itu. Akhirnya kami memendam kesibukan kami ini.
                Ternyata kami bisa menyelesaikannya meskipun itu memang agak sulit. Tetapi, hapalan kami memang masih samar-samar. Kami terus mencoba menghapal dimanapun kami berada, entah itu disekolah, dirumah, ketika kami sedang bermain, sebelum tidur, bahkan diperjalanan pulang-pergi sekolah pun kami terus menghapal. Untungnya semua itu membuahkan hasil, kami hapal surat tersebut.
                Hari Sabtu, sudah saatnya kami mengaji. Kami sudah menyiapkan tugas kami untuk diperiksa oleh kakak, kami pun sudah menyiapkan hapalan kami. Hari itu, kami melihat kakak kami sedang sedikit bad mood, kayaknya sih mungkin karena baru sembuh sakit. Ya, kami maklum!
                Tes hapalan berjalan lancar, PR kami pun diminta dikumpulkan, kami senang karena apa yang telah kami lakukan kali ini benar-benar tidak sia-sia seperti sebelumnya. Tapi……tunggu! Kesenangan kami hancur ketika minggu depannya kakak mengembalikan buku kami. Tugas kami tidak disentuh sedikitpun! Tidak ada goresan tinta darinya, sedikitpun tidak ada! Untuk kesekian kalinya kami merasa kecewa padanya. Dan untuk melampiaskan kekecewaan kami itu, kami curhat kepada mentor kami, Kak Ima. Sebelumnya memang kami sudah bilang ke Kak Ima agar apa yang kami bicarakan padanya tidak diberitahukan kepada Kak Faisal. Tetapi, keesokan paginya Kak Ima memberitahukan itu semua kepada Kak Faisal. Sontak kami kaget! Kami merasa bersalah, kami takut, takut kakak kami itu kecewa pada kami. Kami sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Hanya diam dan merasa tidak terjadi apa-apa.
                Mengaji hari ini memang sangat membetekan. Kakak kami masih agak bad mood dan sepertinya ia belum sembuh total. Tiba-tiba di sela sharing kita, ia berkata, “kakak mau minta maaf sama kalian. Maaf kalau tugasnya belum kakak periksa. Kemarin kakak sakit dan kakak masih sibuk, jadi tugas kalian belum sempat kakak periksa. Sekarang, bukunya boleh dikumpulkan lagi ke kakak. Dan satu lagi, mulai sekarang kakak gak akan memberi kalian tugas sekaligus hapalan. Kakak hanya akan memberikan salah satunya. Dan untuk hapalan, kakak tidak memaksa. Terserah kalian mau hapal atau tidak, kakak hanya menarget dan tidak akan memberikan hukuman.”
                Apa yang terjadi? Kami bertanya-tanya. Ya! Kami senang, itu adalah kabar gembira. Tapi, kami merasa tidak enak karena telah kesal, suudzan kepadanya karena tugas kami belum diperiksa. Seandainya waktu itu kami tahu keadaan kakak kami, mungkin kami tidak akan merasa kesal dan seandainya waktu itu kakak mengabari kami tentang keadaannya, mungkin kami tidak akan suudzan padanya.
                Semakin lama, kakak kami semakin berubah. Ia jarang berada dirumah karena kesibukkannya. Dan akhir-akhir ini ia jarang memberi kami tugas. Memang aku senang, tapi mengapa aku merasa ada yang kurang? Padahal, berkurangnya tugas itu merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi sebagian orang. Rasanya, aku lebih suka kakak yang dulu. Tetapi, teman temanku lebih suka kakak yang sekarang.
                Aku merasa, kakak yang sekarang seperti kakak yang dulu, yang pertama kami bertemu. Aku tidak suka itu, aku tidak suka orang yang terlalu membuat serius suatu hal. Dan ternyata, teman-temanku sependapat denganku meskipun tentang tugas, mereka tak sependapat -___-
                Kami terus berusaha membuat kakak kami ceria kembali seperti dulu, dan suatu saat kami berhasil. Waktu itu, kakak mengajak kami refreshing, rencanaya sih ke Gunung Puntang dan ketika kami membicarakan tentang kendaraan yang akan kami gunakan nanti, kami sempat bercanda dan kakak ikut bercanda bersama kami. Sepertinya pada saat itu kakak memang suasana hatinya sedang senang.
                Kekecewaan pun menghampiri kami lagi. Acara refreshing itu tidak jadi dikarenakan kakak ada acara di kampusnya. Akhirnya kami hanya pergi ke kompleks sebelah, d’amerta! Bosan memang. Kami rasa, itu tidak ada spesialnya samasekali karena kami bisa pergi ke tempat itu kapanpun kami mau. Kakak akan mengadakan suatu games disana, memang sih gamesnya seru tetapi kami tetap saja merasa kecewa pada hari itu karena tidak jadi pergi. Ingin rasanya melampiaskan kekesalan kami, tetapi apa boleh buat, kami hanya bisa bersabar,bersabar dan bersabar. Dan kakak bilang, minggu depan saja kita refreshingnya. Itu yang membuat kekecewaan kami terobati.
                Ternyata minggu depannya tidak jadi lagi, katanya sih minggu ini semua sedang sibuk, termasuk aku. Akhirnya diundur menjadi minggu depan tepatnya hari minggu. Kami semua senang karena senin sampai selasanya kami libur sehingga refreshing itu bisa sangat dinikmati. Tapi ternyata, itu diundur lagi menjadi hari selasa. Ya tidak apalah, hanya beda dua hari dengan hari minggu. Semuanya telah kami persiapkan, dari mulai biaya sampai segala sesuatu yang kami butuhkan untuk disana, di Dago Pakar. Kami sudah sangat semangat dan sangat tidak sabar menanti hari itu. Tetapi ketika Jum’at malam aku diberitahu oleh temanku bahwa piknik kita kali ini gagal lagi. Kecewa, bosan, kesal, semua menjadi satu! Semua itu dikarenakan kakak ada acara bersama teman-temannnya. Yaaa..sekali lagi kami harus tetap bersabar. Hingga akhirnya piknik tersebut diundur minggu depan.
                Aku pesimis itu akan jadi. Aku pikir, itu hanya basa-basi-busuk, omong kosong belaka karena sudah sebulan lebih diundur terus dan sampai sekarang itu belum terlaksana. Aku berniat untuk tidak ikut kali ini dengan alasan akan menghadapi ujian praktek. Memang benar, aku akan melaksanakan ujian praktek! Tetapi teman-teman aku memaksa aku untuk ikut. Aku bimbang antara ikut atau tidak karena aku pesimis itu akan terlaksana. Tetapi, teman-teman bilang “apapun yang terjadi, sekarang harus jadi! Tanpa kakak pun tak apa. Yang penting acara kita kali ini jangan sampai gagal!” akhirnya mereka berhasil membujukku, aku ikut!
Sabtu 21 Mei 2011
                Hari ini benar-benar hari yang sangat berkesan bagiku dan bagi teman-temanku. Alhamdulillah, kali ini kakak mau meluangkan waktunya untuk bersama kami seharian. Meskipun refreshing ini sangat membuat kami lelah mental dan fisik, kami tetap merasa senang. Sepertinya, kakak kamipun ikut merasa bahagia, mungkin karena kakak bisa dengan leluasanya mengerjai kami dengan games-gamesnya yang geje itu sehingga hari ini kakak sangat bahagia -_______-
                Kami tidak menyangka, ternyata kami itu sangat kompak dan kakak kami itu tidak seburuk yang kami kira. Ia adalah tipikal orang yang bertanggung jawab, sabar, dan bisa membuat kami bahagia ^^
                Tidak terasa, sebentar lagi kakak akan meninggalkan Bandung untuk sementara waktu, yaa sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya di Medan. Kami sudah menyiapkan seribu rencana untuk membuat sesuatu yang berkesan dan mudah diingat oleh kakak selama bertugas. Rencana kami, kami akan menjadi adik yang tidak seperti biasanya. Kali ini kami akan menentang semua peraturan kakak, kami berpura-pura tidak mengerjakan tugas, kami tidak akan bersabar demi kakak lagi dan kami akan melakukan kebisingan ketika hari terakhir mengaji. Dan kami akan terus berusaha untuk membuat kakak kami marah besar kepada kami. Kami hanya ingin menepati janji kami, yaitu memberikan kakak suatu kejutan. Dan inilah kejutannyaa….
                Kami tidak jadi melakukan semua itu, karena sebelumnya ada suatu kejadian yang membuat kami pesimis itu akan berhasil. Yaitu ketika ulangtahun Nita. Kami meminta kakak untuk beracting, marah-marah ke Nita dengan alasan tidak mengerjakan tugas. Tetapi kakak bilang, “kakak gabisa marah.” Aneh memang, tapi..yasudahlah.
-malam ahad-
                Mengaji hari ini sepertinya membosankan. Sangat membosankan. Kami hanya diam sampai adzan isya menunggu anak-anak kecil mengaji. Gejeeee! Dan ternyata benar! Hari ini memang geje! Hari ahad subuh, kami mengaji lagi. Itupun hanya 30 menit dan tidak jelas! Heuh, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Metro. Disana kami bermaksud untuk membeli rok, tetapi rok yang kami cari tidak ada. Lalu kami mampir ke toko *tuuuuuuuuuut* untuk melihat kemeja. Kemeja itu untuk kakak kami, kami berniat untuk membelikan kakak kami sesuatu yang berguna selama ia di Medan sana. Dan kami mendapatkannya!
                Ya! Itulah surprise yang telah kami janjikan untuk kakak. Memang sangat sederhana, tapi kami harap itu sangat berguna dan terpakai.
                Tanggal 12 Juni nanti rencananya akan diadakan lomba. Lomba untuk kami, kakak bilang sih begitu. Dan diadakannya di mesjid Al-Ukhuwah. Kami sangat tidak ingin mengikuti lomba itu! Tidaktidaktidak! Tetapi kakak memaksa kami untuk itu -___- yaokelah kalau pesertanya hanya kami. Tetapi ternyata! Satu RW! Betapa banyaknya peserta lomba itu, belum teman-teman kakak yang tidak kami kenal, haduuuuh! Dan parahnya lagi, ternyata kami dibujuk untuk mengikuti lomba tausyiah. Didepan umum? Pake microphone? Oh tidaaaak!
-12 Juni 2011-
                Tidak ada persiapan apapun yang bisa kami lakukan. Kami tidak suka yang mendadak! Materi tausyiahnya pun yang dulu kami pernah sampaikan. Betapa mendadaknya! -___- dan ada satu kejutan lagi untuk kami, yaitu….tausyiah ada jurinya dan kakak bilang, dia itu ustadz! Sungguh menyebalkan! Sepertinya kakak memang sedang mengerjai kami! Oke no problem, kami akan coba membuat kakak bahagia di hari-hari terakhirnya bersama kami.
                Sepertinya kami sependapat. Ustadz itu menyebalkan sekali! Aaah kami tidak suka! komentarnya gabanget! Ingin rasanya lomba itu cepat selesai.
                Kami sedang beristirahat sehabis sholat dzuhur di rumah Bu Dede. Aku membawa secarik kertas untuk menghapal karena besoknya aku masih harus menjalani kejamnya UKK. Temanku Hisma membantuku menghapal, dan setelah merasa bosan, aku, Hisma, dan Fifi memainkan suatu permainan jari. Seru sekali, tetapi tiba-tiba Kak Faisal menyuruhku membeli plastic untuk membungkus hasil karya anak-anak kecil yang tadi mengikuti lomba mewarnai. Aku dan Fifi pun pergi mencari plastic itu. Susah memang, kami sudah mencari ke beberapa grosir, warung, sampai tempat fotokopi, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya kami pulang untuk memberitahu kakak bahwa plastic itu tidak ada. Dijalan kami bertemu “gunggung” yang waktu itu pernah mengejar kami. Meskipun kami naik motor, tetap saja gunggung itu mengejar kami untuk kami tidak apa-apa. Ketika sampai dirumah Bu Dede, kakak menyuruh kami mencari lagi. Oke kami pergi lagi. Sampai ditempat fotokopi yang belum kami jamahi, ibu penjaga toko itu memberitahu kami bahwa didepan ada toko bernama “ALADIN” yang menjual berbagai macam plastic. Alhamdulillah kami menemukannya :)
                Sekitar pukul 16:00 pemenang lomba diumumkan. Dari mulai lomba mewarnai, lomba adzan, lomba hapalan, hingga lomba tausyiah. Diantara kami yang memenangkan lomba itu adalah Nita dan Hisma, sebagai juara 3 dan 1 :)
                Sepertinya kami sedih ditinggalkan kakak. Meskipun kakak agak sedikiiiiiiit nyebelin, tapi bagaimanapun kakak telah merubah hidup kami. Asalnya kami tidak pernah menyempatkan diri untuk menghapal beberapa surat di juz 30, tetapi sekarang kami menjadi penghapal. Dan intinya, kakak telah merubah hidup kami. Terimakasih Kak Faisal Azhar Harahap =)














Hanya Ini..
Terimakasih kak, terimakasih dari kami yang sebesar-besarnya. Tidak banyak kami membuat kakak senang, tidak banyak kami membuat kakak bangga, tidak banyak kami membuat kakak bahagia. Hanya ini…hanya ini yang selalu kami lakukan. Mengeluh, kecewa, suudzan kepada kakak. Maafkan kami yang selama ini selalu begini. Kami ingin menjadi murid kakak yang baik, kami ingin ilmu yang kami terima dari kakak dapat kami terima dengan baik dan dapat kami amalkan di dunia dan menjadi amal baik yang dapat menolong kami di akhirat kelak. Kami ingin kakak menganggap kami sebagai adik, bukan sekedar murid Islamiyah Smart karena kami sudah menganggap kakak sebagai kakak kami sendiri J
Kami senang kakak dapat merubah hidup kami, kami juga senang hidup kakak sekarang sedikit berubah. Tidak terlalu serius seperti dulu J semoga selamanya akan selalu begitu dan semoga kami masih bisa belajar bersama kakak. Semoga kita bisa menjadi adik dan kakak yang kompak, yang selalu berada dijalan Allah SWT, yang selalu mencari ridho Allah SWT dan yang selalu melakukan segalanya karena Allah SWT.

Islamiyah Smart
*    Devina Aulia Oktaviani
*    Hisma Sundari
*    Miranti Choirun Nida
*    Nuryunita Rahmawati
*    Riandini Nuraini
*    Shafira Andriyani
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Untukmu, sahabatku..


                Ketika aku membuka mata dan melihat keluar jendela, dia sedang bersiap untuk pergi kesekolah dengan ransel cokelat kesayangannya. Dia sangat rajin dan tepat waktu, sedangkan aku? Masih bermalas-malasan di-pulau-kapuk-ku. Mama selalu mengomel setiap pagi, karena aku! Katanya, tidak pantas anak perempuan bangun siang. Selain itu, aku akan terburu-buru pergi kesekolah hingga ada hal-hal yang aku lupakan. Tetapi, aku tetap begitu. Aku tidak mendengarkan pesan mamaku, aku terus mengulanginya, apalagi pada hari libur.
                Aku dan dia selalu bermain bersama dan mengerjakan tugas bersama. Selain rumah kita berdekatan, kitapun satu sekolah. Aku sangat senang mempunyai sahabat seperti dia, meskipun perbedaan kita sangat dominan. Mulai dari perbedaan gender, hobi, cita-cita, dan masih banyak lagi. Mamaku selalu membandingkanku dengan dia, terkadang aku merasa kesal, tetapi ketika aku ingat bahwa dia adalah sahabatku dan sepertinya aku sangat pantas dibandingkan dengan dia, kekesalanku pun lenyap.
                Kadang aku bertanya kepadanya, bagaimana cara untuk menjadi seperti dia karena lama-kelamaan aku merasa bosan diomeli oleh mamaku terus. Dan dia hanya menjawab “semua itu berawal dari diri sendiri dan semua itu harus didasari dengan niat baik” kata-kata yang sangat sederhana namun sangat bermakna.
                Aku selalu mencobanya, tetapi tetap saja. Aku tidak berubah, aku tetap menjadi aku yang biasanya. Aku sangat ingin berubah, tapi mengapa perubahan itu sangat sulit?!
                Dia itu laki-laki, seharusnya aku bisa lebih rajin darinya karena aku adalah seorang perempuan. Tetapi mengapa aku tidak bisa menandinginya?! Huuhh yasudahlah, aku terima takdir saja. Mungkin aku tidak ditakdirkan menjadi perempuan seutuhnya. Tetapi aku akan terus mencoba.
                Hari demi hari, selalu kuhabiskan dengan omelan mama. Aku bangun siang lah, tidak bisa mencuci baju lah, kamar berantakan lah, aahh sepertinya kesalahanku sangat banyak! Dan pada suatu hari, dia berkunjung kerumahku. Kami memang sangat jarang bermain dirumahku karena aku tidak pernah mengizinkan dia masuk dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Sebenarnya, aku hanya ingin mamaku tidak membandingkanku dengan dia ketika kami sedang bermain. Dan pada hari itu dia berhasil masuk kerumahku karena diperbolehkan oleh mamaku. Matilah aku! Belum apa-apa saja mamaku sudah menceritakan semua kejelakanku kepadanya, dan untungnya dia hanya senyum kecut mendengar semua itu. Dan ‘TARAAAA!’ aku sangat malu ketika dia melihat isi kamarku. Itu sangat berantakan dan tidak enak dilihat. Alhasil, dia mengajakku membereskan kamar. Itu adalah hal yang tidak biasa aku kerjakan! Tetapi, ternyata itu tidak seburuk yang aku pikirkan. Ternyata itu sangatlah mudah dan menyenangkan. Dan hasilnya, kamarku menjadi bersih, tertata dan sangat nyaman. Berawal dari situ, hidupku sedikit berubah. Aku tidak seberantakan sebelumnya. Dan akhir-akhir ini dia sering menasehatiku untuk merawat segala yang aku punya.
                Suatu ketika kami akan menghadapi Ujian Nasional tingkat SMP. Segalanya telah kami persiapkan matang-matang. Mulai dari jasmani sampai rohani. Aku mulai terbiasa bangun pagi, sangat pagi karena aku mulai ingin mengerjakan sholat tahajud sesuai saran darinya dan dari orang tuaku dan sepertinya itu merupakan salah satu usaha untuk mencapai keberhasilan dunia dan akhirat. Dari waktu ke waktu ternyata dia terus memberi pengaruh positif dalam hidupku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia. Diapun selalu memotivasiku untuk terus belajar.
                Ujian sudah didepan mata. Sepertinya kami sudah sangat matang untuk itu. Hari pertama berjalan sangat baik dan sesuai rencana. Hari kedua pun begitu. Hari ketiga aku menemukan sedikit hambatan pada pelajaran IPA. Dan puncaknya hari terakhir, yaitu matematika. Ya! Pelajaran yang sangat memuakkan bagiku, tetapi tidak baginya. Dia sangat menyukai pelajaran itu. Aku merasa pesimis pada hari terakhir ini karena aku tidak terlalu menguasai pelajaran ini. Dan ternyata benar! Hanya beberapa soal yang bisa kukerjakan. Aku sangat takut, takut tidak lulus karena satu pelajaran mematikan ini.
                Dia terus memotivasiku agar aku optimis dengan hasil ujian ini. Namun, aku tidak bisa. Hati kecilku berkata bahwa aku tidak berhasil dalam ujian kali ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan akhirnya aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada Allah swt.
                Detik-detik terakhir disekolah kami ini, kami habiskan di perpustakaan. Karena kami tahu, bahwa di sekolah kami nanti, tidak akan ada perpustakan sebebas ini dengan pustakawan yang sangat bersahabat dengan kami. Mungkin, di sekolah kami nanti perpustakaannya akan dijaga ketat dengan peraturan-peraturan yang sangat memuakkan. Selain membaca, kami melakukan banyak aktivitas diperpustakaan, seperti sharing, makan siang bersama, bahkan ada salahsatu diantara kami yang menggunakan perpustakaan sebagai tempat mereka berpacaran (don’t try this!). Kami merasa perpustakaan ini sebagai rumah kami sendiri. Kami menemukan kehangatan, kebersamaan, dan kebahagiaan disini meskipun kami tahu, semua itu tidak akan berlangsung lama, sebentar lagi kami akan berpisah untuk meneruskan pendidikan kami.
                Pengumuman hasil ujian nasional. Itu yang sangat kami tunggu. Seluruh siswa tidak diperbolehkan datang kesekolah. Hanya orang tua yang boleh datang kesekolah untuk mengambil hasil ujian anaknya.
-Dirumah-
                “Hasil ujian kita nanti gimana ya?”
                “aku sudah pasrah dengan semua itu, aku tidak yakin akan lulus dengan nilai matematikaku yang mungkin sangat kecil.” Kataku dengan nada pesimis
                “kamu gaboleh pesimis gitu dong. Optimis aja kalau kita semua pasti lulus, amiin.”
                “iyasih, tapii…..”
                “suut, cukup. Yakinkan hati kamu kalau kamu bakalan lulus, ya?”
                “iyadeeeh.”
                “naah gitudoong.”
                Akhirnya orangtua kami sampai dirumah dengan membawa hasil ujian kami. Aku sangat takut, aku takut jika aku tidak lulus, akan jadi apa aku nantinya.
                Taraaaaaa! Ternyata aku lulus, meskipun dengan hasil yang standar, diapun begitu. Namun, orangtua kami berkata, hasil itu cukup bagus dan sangat memuaskan karena kami melakukannya dengan sepenuh hati dan kejujuran. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik yang diberikan Allah SWT kepada umatnya. 33,3 itu bukan angka yang kecil! Toh kalau dirata-ratakan, nilai rata-ratanya menjadi 8,3..Alhamdulillah..
                Urusan kami di SMP sudah selesai, kami tinggal memikirkan sekolah masa depan kami, yaitu SMA. Hari demi hari kami habiskan dengan refreshing, melepas penat, dan menghabiskan waktu bersama teman karena sebentar lagi kami akan berpisah.
                Suatu hari dia berkata kepadaku, “apabila nanti kita harus berpisah, tolong jangan tangisi aku karena air mata itu tidak akan merubah segalanya” aku sungguh tidak mengerti apa yang ia maksud, aku bingung, tetapi dia tidak pernah mencoba menjelaskan apapun kepadaku.
             Perpisahan..ya! sekolah kami akan mengadakan perpisahan. Sedih memang, tapi..sudah hukum alam bahwa disetiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Perpisahan disekolah kami diadakan secara sederhana, hanya mengadakan beberapa acara pelepasan disekolah. Semua anak laki-laki diwajibkan memakai stelan kemeja dan jas, sedangkan perempuan diwajibkan memakai dress batik. Perpisahan tersebut diadakan tanggal 12 Juni 2010 dan kami, Chiloful! diminta untuk membawakan beberapa lagu diacara tersebut. Oiya, aku hampir lupa. Kami itu membuat suatu band amatiran yang bernama Childrens of Revolution atau secara singkatnya Chiloful! Dan anggotanya adalah, Naufal sebagai violist, Ruri sebagai Guitarist, Silmi sebagai Keyboardist, Abror sebagai Drumer, dia sebagai Bassist dan back sound, dan aku sendiri sebagai Vokalist. Tetapi kali ini aku menolak tawaran itu, sungguh aneh. Tidak biasanya aku menolak tawaran manggung, dan ujung-ujungnya aku dimusuhi mereka karena mereka bilang, aku menghancurkan harapan mereka. Satu-satunya tumpuan mereka adalah aku, jika aku menolaknya..mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain mencari penggantiku. Dan akhirnya mereka sudah mendapatkan penggantinya. Dia..! dia yang menggantikanku. Meskipun begitu, tetap saja teman-temanku memusuhi ku -______-
-12 Juni 2010-
                Perpisahan dimulai pukul 09:00. Semua siswa dan siswi telah bersiap dengan pakaian terbaik mereka pada hari itu. Begitupun teman-temanku, mereka telah menyiapkan segalanya untuk penampilan mereka nanti. Aku hanya bisa menyemangati dari jauh karena rasa kesal mereka terhadapku masih belum sirna. Ya..tidak apalah, yang penting aku tidak pernah merasa kesal atau benci sekalipun kepada mereka, termasuk dia…
                Sekarang giliran mereka tampil. Membawakan sebuah lagu yang membuat semua merasa tersentuh. Aku sempat merekamnya dalam handphoneku dan ternyata suara dia sangat indah. Ternyata chiloful! Memang telah menemukan pengganti yang tepat dan lebih sempurna dariku.
                Setelah penampilan perdananya menjadi vokalis, ia jatuh sakit. Ia jarang sekali keluar rumah, akhirnya aku memutuskan untuk berkunjung kerumahnya. Ternyata benar, dia memang sakit dan sekarang sedang ada dirumah sakit. Aku bergegas memberitahu semua temanku.
-di rumah sakit, 18 Juni 2010-
                “assalamu’alaikum”
                “waalaikumsalam. Eh kalian, sini masuk” jawabnya
                “iya, makasih. Kamu sakit apa sih Rey?”
                “Cuma sakit tifus ko, gapapa..sebentar lagi juga Insya Allah sembuh”
                “oh, bener bentar lagi sembuh?”
                “doain aja ya. Hem..makasih ya udah mau nyempetin buat datang jenguk aku”
                “iya, sama-sama Rey. Kita pulang dulu ya, udah mau habis kan jam besuknya. Cepet sembuh ya Rey. Assalamualaikum”
                “oh iya. Makasih ya. Waalaikumsalam”
                Setelah mereka pergi, aku berniat masuk ke kamarnya. Dan dia menyambutku dengan baik. Aku kira, dia kesal kepadaku tapi ternyata tidak! Akunya saja yang suudzan terhadap dia dan teman-temanku yang lain. Hari itu aku menghabiskan waktu bersamanya dan mamanya. Baru sekarang aku merasakan hangatnya persahabatan, indahnya persahabatan, dan kebersamaan. Itu adalah hal-hal yang sangat aku rindukan. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke 15, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya, aku sudah tidak sabar menunggu besok. Karena hari sudah sore maka aku harus cepat pulang sebelum mama mulai mengomel lagi. Sebelum pulang, dia mengatakan sesuatu yang dulu pernah ia katakan kepadaku “apabila nanti kita harus berpisah, tolong jangan tangisi aku karena air mata itu tidak akan merubah segalanya” kata-kata itu masih menjadi teka-teki, dan akhirnya aku menanyakan apa maksud dari kata-kata itu.
                Ternyata.. dia memberiku sebuah kejutan, sebuah kejutan yang menyedihkan, sebuah kejutan yang tidak ada seorangpun yang ingin mendapatkannya, sebuah kejutan yang benar-benar mengejutkan, bahkan apabila aku harus memilih, aku lebih memilih untuk tuli daripada harus mendengar semua itu. Dia memberitahuku tentang penyakit yang sebenarnya. Dia menderita kanker hati, seperti almarhum kakaknya dulu. Ironis… serasa dunia berhenti berputar sejenak apalagi ketika ia bilang, umur bagi penderita kanker hati dari lahir itu hanya bertahan sampai 8 tahun, sedangkan dia masih bertahan sampai 15 tahun. Maka dari itu, waktu dia didunia ini tidak lama lagi.
                Tidak terasa air mataku menetes, semua memori masa lalu bersamanya terulang kembali. Dia telah berhasil merubah hidupku 180 derajat! Aku tidak tahan lagi berada disini, rasanya aku ingin pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dan berteriak sekencang-kencangnya. Aku bergegas keluar untuk pulang. Dijalan, perasaanku sudah tidak karuan. Perasaanku tidak enak, takut terjadi sesuatu.
                Pukul 19:19 handphoneku bergetar, dan ternyata mamanya Rey yang meneleponku. Dengan ragu kuangkat telepon itu, dan…
                “assalamu’alaikum”
                “waalaikumsalam, Dey ibu mau kasih tau sesuatu”
                “tentang apa, Bu?”
                “tentang Rey”
                “ada apa sama Rey, Bu?”
                “sekitar sepuluh menit yang lalu, dia sudah tidak disini bersama kita” suaranya terisak.
                “maksudnya Bu?”
                “Rey..Rey..sudah meninggal Dey” suara tangis itu kini makin jelas.
                “Innalillahi..itu semua bener Bu?”
                “bener nak, Dey kesini ya sayang. Rey tadi nitipin sesuatu ke ibu buat Dey”
                Semua itu seperti mimpi. Beberapa jam yang lalu aku masih bersamanya! Aku sungguh menyesal telah meninggalkan rumah sakit lebih cepat. Andai saja tadi aku masih berada disana bersama Rey. Aku berlari meninggalkan rumah dan tidak memperdulikan apapun. Bahkan, aku samasekali tidak menghiraukan air mataku yang mengalir.
=di rumah sakit=
                Aku berlari menuju kamar Rey. Aku masih terus berharap semoga semua ini bohong dan hanya mimpi buruk yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sesaimpainya dikamar Rey, aku menemukan keramaian. Semua keluarganya ada disana. Aku tidak kuat menahan air mataku, aku tidak kuat membayangkan itu, kepalaku terus berdenyut, otakku terus memutar memori masa laluku bersama Rey. Lalu, wanita itu menghampiriku dan langsung memelukku dengan erat.
                “tadi Rey ngasih sesuatu sama ibu, katanya ini buat kamu..” kata wanita itu sambil menyodorkan kotak yang dibungkus dengan rapi.
                “apa ini bu? Dey juga punya sesuatu buat Rey. Besok kan Rey ulang tahun, ko Rey yang ngasih ke Dey?”
                “kurang tau sayang, sepertinya hadiah ini sudah disiapkan Rey dari jauh-jauh hari”

Untuk sahabatku, Deyra Putri..
                Hey Dey, aku seneng banget punya sahabat kayak kamu. Karena kita banyak perbedaan dan perbedaan itulah yang membuatku nyaman. Terimakasih atas semua yang udah kamu kasih ke aku. Dey, aku ukir nama kita di jam tangan itu supaya kamu masih tetep inget sama aku, sama persahabatan kita. Mungkin ketika aku tulis surat ini, umurku sudah tidak lama lagi. Maaf kalau selama ini aku gak ngasih tau apapun tentang penyakitku. Aku hanya gak ingin kamu kepikiran itu, aku gak ingin ujian kamu terganggu, dan aku gamau jadi beban di hidup kamu. Aku takut kamu menjauh dari aku, aku takut kamu gamau temenan lagi sama aku.
                Dey, janji ya..jam tangan itu gaboleh dibuang apapun yang terjadi. Sampai jam tangan itu rusak pun kamu harus tetep simpan jam tangan itu. Dan kamu harus janji! Kamu gaboleh nangis dengan apa yang telah terjadi ketika jam tangan ini menjadi milikmu.
                Maaf untuk segala sesuatu yang dulu kulakukan. Semoga semuanya dapat menjadi amal ibadah kepada Allah SWT. Semangat Deyra!  Aku yakin, kamu akan mendapatkan sahabat yang lebih baik dariku. Dan mungkin suatu saat nanti kau akan menemukan pasangan hidup yang sangaaaaat baik, aamiin..
                Dey, surat ini sampai ditangan kamu ketika ragaku ini sudah tidak berdaya melakukan sesuatu, ketika jiwa ini sudah sangat rapuh, dan ketika ruh ini mulai memberontak keluar. Kini hanyalah amalku yang bisa menolongku di kehidupan kelak. Tolong doakan aku dan tolong jangan tangisi aku.
Terimakasih untuk semuanya,
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh…

Sahabatmu,
Rayhan Hilmi Nurazhar


Kubuka kotak itu. Subhanallah, sesuatu yang sangat indah ada disini. Sebuah jam tangan dan terdapat ukiran “Rey-Dey” di talinya. Sepertinya Rey yang mengukir itu. Dan terdapat juga sebuah surat yang isinya
                Apa yang ia berikan selama ini kepadaku sangatlah berharga. Ia mengajariku bagamana cara menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Dia sahabat yang baik yang pernah kutemukan. Rasanya, ingin sekali aku melakukan tawar-menawar kepada Tuhan agar dia tidak kembali kepada-Nya secepat itu. Tapi, bagaimanapun itu sudah takdir-Nya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya.
                Selama ini, aku belum pernah memberi sesuatu kepadanya. Sesuatu yang berharga. Sesuatu yang dapat mengingatkannya tentangku. Aku ingin sekali membuat dia bahagia, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Dan mulai hari ini, tepatnya hari ulangtahunnya yang ke-15 aku akan memberikan sesuatu yang sederhana tetapi Insya Allah akan menolongnya. Aku akan terus mendoakannya. Memang hadiah ini tidak mewah, tapi aku harap ini sangat berguna untuknya, aamiin..

HAMASAH! :)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS