Seperti apa? Seperti ini :-)

Sudah terlalu banyak orang yang mengenal kami. Ya! Kami. Kami sebagai kami. Tetapi menurutku, ini aku, dan itu dia. Aku dan dia bukanlah kami.

Tidak tahu berapa lama kami sudah saling mengenal. Mungkin ketika kami masih memakai seragam yang lucu dan berwarna-warni pun kami sudah saling mengenal. Sampai sekarang, aku sudah mengenakan seragam Putih-Abu di perjuangan akhir, dan dia telah mendahuluiku menggunakan Jas Almamater di Universitasnya. Bukan..ini bukan karena aku gagal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi ini karena ia yang sudah pantas untuk mendahuluiku dan mungkin teman-teman yang seangkatan dengan kami. Ya, dia memang anak yang...cerdas. Aku mengaguminya. Tetapi dia tetap rendah hati, dan mau berbagi ilmu kepada orang lain.

Banyak sekali diluar sana yang mengaguminya. Siapa sih yang tidak mau dekat dengannya. Berparas tampan, berotak Einstein, berasal dari keluarga yang cukup tinggi untuk dipandang, dan dia itu sangat rendah hati. Keluarganya mengajarkannya untuk selalu memandang kebawah. Meskipun sudah hidup lebih dari cukup, tetapi mereka masih tinggal di tempat yang sederhana. Itu yang aku kagumi darinya, dan keluarganya.

Aku dan dia sudah berteman sejak lama...lebih tepatnya kami bersahabat. Kami sudah sangat mengenal pribadi masing-masing, dan kami menerimanya. Sekalipun itu kurang baik. Aku pernah menyimpan perasaan kepadanya. Tapi itu dulu. Akupun sempat kesal, mengapa perasaanku kepadanya tidak terbalas? Ya, lama-lama akupun mundur dan berpikir "mungkin jika kami tetap menjadi sahabat, itu akan lebih baik :)"

Suatu hari, pada tanggal 09 September 2009 pukul 09:09, dan kami masih duduk di kelas 9. Kau mengatakan sesuatu padaku. Sesuatu yang dulu aku tidak tahu apa arti dan makna dari kata-kata itu. "Ana Uhibbuki Fillah".

Dengan penuh rasa penasaran, keesokan harinya aku bertanya pada temanku tentang arti dari kata-kata itu. Ternyata artinya cukup mengagumkan. Tetapi, hanya itu? Kau hanya ingin mengatakan itu? Tanpa menanyakan jawabanku? Yasudah, mungkin kami memang hanya sahabat, tidak bisa lebih hehe.

Semakin hari kami semakin dekat. Seperti lebih dari sekedar sahabat. Saat itu aku memang masih sangat polos hehe, belum mengerti apa yang namanya 'pacaran'. Yang kutau, pacaran itu...perempuan dan laki-laki pergi berdua untuk makan di food court BSM. Betapa polosnya Mira ini hehe :D

Semakin hari, kami semakin seperti adik dan kakak, yaa meskipun kami satu kelas. Setiap hari kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama, dan Ibunya pun tidak pernah ketinggalan membawakanku bekal makan. What an awesome family, huh? :O Aku dan keluarganya pun sangat dekat. Kakaknya sudah seperti kakakku sendiri, adiknya pun sudah seperti adikku sendiri. Tidak ada kecanggungan apapun diantara kami. Kami sudah seperti satu keluarga yang sangat utuh.

Mungkin kenangan manis itu memang terasa lebih cepat. Sudah saatnya menggunakan Putih-Abu dan kami sudah berencana untuk melanjutkan ke sekolah yang sama. Ya, sekolahku saat ini. SMAN 1 Baleendah. Tetapi, manusia memang hanya bisa berencana. Kami sudah terdaftar sebagai peserta test, tetapi pada H-1 kami menjalani test di sekolah itu, dia mengabariku sesuatu yang...-__-

Dia tidak akan mengikuti test disini karena sudah terdaftar sebagai penerima beasiswa di Turki. Galau. Itu artinya, aku tidak akan bertemu dia lagi? Setiap 6 bulan sekali dia akan pulang. Dan itu mendadak membuatku membenci kepintaranmu!

Tetapi, apa hak ku untuk melarangnya?! Itu semua kan cita-citanya. Apa pantas aku menghancurkannya? Jika aku menghancurkan semuanya, aku akan menjadi orang paling jahat sedunia! Lagipula, aku ini siapa? Hanya seseorang yang selalu dia sebut "anak kecil", hanya "anak kecil" yang selalu merepotkannya! Ya semoga saja ini yang terbaik :)

Waktu kami sudah berbeda jauh, siang dan malam sudah tidak kami lewati secara bersamaan. Buka puasa dan sahur kamipun sudah berbeda. Ya, kini kami sudah berbeda negara..tetapi, kami masih melihat bulan yang sama :) Alat komunikasi sekarang sudah jauh lebih canggih dari sebelumnya. Kami masih bisa menggunakan Skype untuk video call. Kami bisa menggunakan Facebook atau Twitter untuk mengobrol. Kalau SMS sepertinya lebih jarang, ya masalah biaya hehe :D

Aku kira, kami akan lulus SMA bersama-sama. Tetapi, dia mendahuluiku! Dia duduk di bangku SMA hanya dua tahun?! Are you a child from Einstein?-__-

Dia sudah kembali ke Indonesia, dia sudah menemuiku..dan dia banyak berubah :) mulai dari penampilan, cara bicara, dan...sekarang dia sudah mempunyai pacar? hehe. Lalu? Maksud dia menyanjungku di setiap kata-katanya itu apa? Apa dia seorang PHP handal? Ya, aku akui..selama kau disana, akupun menjalani hubungan lebih dengan  seseorang. Tetapi aku sudah tidak ada apa-apa lagi dengannya, ya mungkin mantanku itu tidak mau memberikan cintanya yang tulus itu untuk perempuan sepertiku, perempuan yang masih menanggapi  kata-kata romantis seorang lelaki yang BUKAN SIAPA-SIAPANYA di social media. Akupun bisa merasakan betapa sakitnya jika aku ada di posisi mantanku itu. Apa di part ini aku menyalahkan dia? Tidak! Ini memang salahku sendiri. Seharusnya aku sadar, aku sedang terikat suatu hubungan dengan seseorang dan aku harus menjaga jarak dengan dia demi menjaga perasaan orang lain.

Beberapa kali aku berusaha meyakinkan mantanku bahwa 'dia' itu bukan siapa-siapaku, tetapi ya apa boleh buat. Mantanku lebih memilih meninggalkanku dengan alasan yang menurutku sangat tidak dewasa! Sekali lagi, apa di part ini aku menyalahkan 'dia'? Tidak! Sama sekali tidak!

Sekarang, mengapa aku selalu menganggap bahwa tanggal 9 itu adalah anniversary kami, padahal kami tidak pernah pacaran sebelumnya. Ya itu karena pada tanggal 9 itu dia mengatakan kata-kata itu, meskipun dia tidak menunggu respon apapun dariku tapi aku tau, dia menganggap akupun sama sepertimu.

Hubungan kami ini memang rumit, jika dibilang hanya sekedar sahabat, orang-orang tidak akan percaya. Tetapi kami kan menganggapnya tidak lebih dari itu. Dan tentang perayaan anniversary itu, itu masih tetap bukan hari jadi kita kan? itu hanya tanggal dimana kau mengatakan "Aku Menyayangimu karena Allah" hanya itu kan? :)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

The Real Horror Story? No! That's An Unforgettable Moment

Hari ini, tepatnya pada tanggal 02 Januari 2012. Seperti biasa, aku dan sepupuku bermain sepeda pada sore hari. Awalnya, kami tidak mempunyai tujuan akan kemana kami nantinya, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk "menyambung hidup" karena pasukan Marching Band perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi. Sebelum ke tempat tujuan, kami memutuskan untuk berkeliling dulu dan akibatnya kami lupa waktu -_-
Sekitar pukul 17:30, kami sampai di tempat itu --masih menggunakan sepeda-- kami memesan dan tidak lama kemudian pesanan kami datang dan tidak lama kemudian pula Adzan Maghrib berkumandang.
Ceritanya berawal dari sini. pukul 16:30 kami selesai makan dan pulang kerumah masing-masing. Awalnya kami memang bersama-sama, tetapi setelah sampai di persimpangan, kami berpisah. Sepupuku belok ke arah kiri sedangkan aku masih tetap lurus. Dan kami akhirnya sendiri.
Awalnya aku merasa nyaman di perjalanan karena tempat itu cukup ramai. Di langit pun terdapat satu bintang yang sangat bercahaya, itu cukup menarik perhatianku karena aku senang sekali melihat bintang. Tetapi, aku merasa ada yang ganjil ketika aku mulai memasuki area yang cukup sepi dan gelap. Ya! sangat gelap karena sepedaku tidak memiliki lampu. Daaan... "Ra.." aku merasa ada yang memanggil namaku. Aku cukup kenal suara itu. Aku terus memacu sepedaku dengan santai, tetapi suara itu tetap terdengar. Disini, aku benar-benar tidak bisa mengalahkan rasa takutku. "Mira, tunggu!" sekarang, ia menyuruhku menunggu? Aku tidak mau!
Dan, tiba-tiba saja didepanku terdapat sesosok manusia. Aku berhenti. Bibirku kaku, ingin sekali aku berteriak meminta tolong kepada siapa saja yang ada disana, tetapi tidak bisa. Ia terlihat tampan, wajahnya teduh memancarkan cahaya. Rey. Rayhan Hilmi Nurazhar. Sahabatku dulu, dulu sekali ketika semuanya belum terjadi. Sepertinya, hari ini ia ingin bertemu denganku. Aku sedikit merinding melihatnya, meskipun wajahnya sedikit tidak jelas. Sayup-sayup ia mengatakan "hati-hati" kepadaku, dan setelah itu...ia menghilang.. menghilang dengan satu-satunya bintang di langit itu. bintang kesukaannya dulu..
Percaya atau tidak, hmm aku tidak tahu! Aku merasa semua ini seperti mimpi, tetapi ini kenyataan. Mengapa ia masih tetap menggangguku. Apa ia....ah sudahlah, aku mulai merinding meneruskannya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS